HK is for Hadi Kuncoro

My photo
A Friend, Husband & Father! Time is always change and so does the world! House of Changes by HK is there to partner with you to share, brainstorm and dreams. We build a new pardigm for a better life and society. I do invite you to encourage ourself to lead the changes! Hadi Kuncoro

Monday, February 21, 2005

Ngobrol Yok

Kasus "Ustadz di Kampung Maling" telah mencuatkan sebuah fenomena yang menyedihkan dalam kegiatan berbangsa di negara ini. Dua pribadi yang mewakili institusi Pemerintahan dan kerakyataan ternyata telah memberikan sebuah gambaran nyata ; ya hanya sebegitulah peradaban bangsa kita tercinta.
Saya pribadi berkeyakinan bahwa semua atau kedua belah pihak baik pak Jagung dan Pak Legislatif itu pada dasarnya ingin berbuat baik untuk bangsa ini, namun apa lacur kedua individu ini masih sangat lemah dalam hal communication skill. Apa pasal ?

Komunikasi menurut ilmunya adalah pertukaran informasi, yang memiliki 4 unsur dasar yaitu ada pengirim (sender), ada penerima (receiver), ada media dan ada informasi. Agar proses berkomunikasi itu baik maka diperlukan kehebatan dan kemampuan dari tiga unsur dalam berkomunikasi. apa itu ? jelas, sistematis, akurat, dan valid. Namun ada satu hal yang masih kurang menurut pendapat saya adalah Empathy. Jelas, sistematis, akurat dan valid itu condong pada cerminan tolok ukur professional kapitalis dan agak kurang pro terhadap peradaban humanis alias adab manusia. Seharusnya si sender informasi itu juga memiliki empathy karena yang sedang kita bicarakan adalah komunikasi antar manusia, begitupun si receiver sudah seharusnya memiliki keahlian mendengarkan dengan baik yang beremphaty. Dan unsur ketiga Media bukanlah hal sumber dispute dalam hal kasus "Ustadz di kampung Maling"

Menurut pengertian "Ustadz di kampung maling" bisa berarti sebuah sanjungan dan juga tantangan bahwa seorang ustadz berada di kampung yang belum beradab sehingga dengan keustadzannya maka incumbent diharapkan bisa merubah dan memperbaiki kampung tersebut kecuali sudah terjadi devaluasi dari arti ustadz. Namun bisa pula berarti lain ketika ada orang memiliki pendekatan sudut pandang yang berbeda semisal penekanannya di kampung maling, secara hukum untuk menentukan maling atau bukan maka pengadilanlah yang berhak menentukan.

Inilah peradaban bangsa kita, yang mana kita belum cukup kompeten dalam hal berinteraksi dan berkomunikasi sesuai adab yang baik, karena fondasi sistem pendidikan kita belumlah memberikan kesempatan pada kita dan anak-anak kita untuk belajar seni berkomunikasi sejak dini, yang ada sekarang adalah sistem top down capitalistic education, yang mana ketika guru bilang A maka murid harus A dan apabila murid berpendapat B maka murid salah dan dihukum. Pola ini menciptakan image tolok ukur kapitalis dimana anak yang pinter sempoa, bahasa inggris, matematik dll adalah yang paling hebat sementara pembelajaran seni, budaya dan adab terpinggirkan secara kelembagaan.
atau dengan kata lain saya menyadari Moral etiquette education di sini, Bangsa kita ini sangatlah miskin.

Ah...serius sekali saya berbicara hari ini, tapi itulah hakikat berwarganegara.Sumbangsihku hanyalah, Aku akan berusaha sekuat apa yang aku bisa sebagai orang tua untuk dapat memberikan keleluasaan dalam pola berfikir bagi anak-anakku kelak dengan naungan seni dan adab baik agama maupun dunia yang takan tersisihkan. Agar kelak kita bisa mengobrol dengan hati sehat dan bersih dengan siapapun.Yok, kita ngobrol ....
salam
hadi tea EUY!!!

No comments: