HK is for Hadi Kuncoro

My photo
A Friend, Husband & Father! Time is always change and so does the world! House of Changes by HK is there to partner with you to share, brainstorm and dreams. We build a new pardigm for a better life and society. I do invite you to encourage ourself to lead the changes! Hadi Kuncoro

Monday, August 23, 2004

Raiman Town House, MERDEKA!!!!

Di tempat kami, "The Raiman Town House" Jl. Moh. H. Kahfi I Gg. H. Raiman RT 008 RW 001 Ciganjur Jakarta Selatan, gaung 17 Agustusan menggema tepat pukul 9 pagi. Di halaman parkir semua tenants sibuk sesuai dengan porsi tanggung jawabnya masing-masing. Pasang sound system, pasang lintasan dari tali rafia dan segala pernik kesibukan....Seiring kumandang lagu patriotik kemerdekaan negara kita
"Sekali Merdeka tetap Merdeka, selama hayat masih dikandung badan, kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia...."
Are you ready ??? Let's get it on !!!!

"Ah...ini bukan bendera negara Kita Bunda, Mengapa ?"
Wah...saking semangatnya semua panitia sampe lupa kalo bendera Kebangsaan kita adalah Merah Putih..... yang di atas bendera siapa yah ?


Pendekar Wanita "Raimaners" siap melahap kerupuk!!!


Ini "Raimaners" pria, terlihat buncitnya......

Kegembiraan tanpa upacara bendera seperti layaknya kita sekolah dahulu. Tak ada pengibaran bendera, tak ada pembacaan teks proklamasi ... Meski tanpanya, tidak pula mengurangi kekhidmatan dan kesungguh-sungguhan seluruh isi komplek "Raiman Town House" dalam bergembira dan bersama-sama merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-59 dan yang pertama di Komplek Kami.


Yang diadu jidatnya aja dong, perut kebawah janganlah ...kan Malu!!!
Ibu Demang sedang bagi-bagi jatah nih !!!!

Lomba untuk anak-anak kami seperti layaknya 17-an makan kerupuk, merangkak bayi, memasukan bendera kedalam botol dan yang lain.... tak lupa untuk orang tua mulai lomba adu perut hingga adu jidat, sampai memasukan paku ke dalam botol...Ugch......

SEMUA BAHU MEMBAHU
Sambung menyambung dan kompak satu keluarga saling bahu membahu !!!

"Nak sebelah sini nak !!!"

Orang tua dan anak-anak begitu besemangat, semua mengenal lebih akrab satu dengan yang lain....


"Aha Itu dia anakku... walaupun tak sempat menyentuh garis finish tapi Ayah bangga Nak!!!"
"Kok Krupuknya gede bener yah ?" Kak Acha Bingung makannya
"Lihat yang ini...Bunda melahap habis kerupuk itu dan Juara Hore!!!"


Ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan, semua game-game yang ussually we found in 17-an aniversary...hararese euy!!! SO...don't push your children to be a winner further yah. Yang paling penting adalah hakikat kebersamaan, kegembiraan, dan sportifitas MEDEKA!!!


Aa Rangga mo tuker hadiahnya ama Kaka Madu... sementara Al tetep PD

Mas Roni ama Kang Eko ini sedang lomba balap kelereng atau sedang berdoa yah ?


Berkumpul bersama.... siap-siap pemilihan Pak Bon alias ketua lingkungan...
"Terima kasih Ibu Haji dan semuanya atas kepercayaan tapi perhitungan tetap berlanjut ama si Adam atas hasutan pemilihan tersebut!"


Bibi dan Pengasuh tak lupa ikut bergembira...

Ini Lomba balap kelereng atau lomba jalan kodok ?

Mamanya Madu bukan sedang bermain pencak silat loh !!!


Pemotongan Tumpeng...Mengakhiri serangkaian acara games, untuk beralih ke acara beramah tamah.... 18 rumah berarti 18 kepala rumah tangga dan tidak berarti 18 orang penghuni...tapi BUANYAAAK ternyata yah penghuni komplek kita !!!

Terima kasih untuk Panitia, Terima Kasih Untuk Bu Haji dan keluarga, Terima Kasih Untuk Semua.

MERDEKA !!! MERDEKA !!! MERDEKA !!!

salam
h@di tea EUY!!!
with Dicky as Photoes Contributor

Friday, August 20, 2004

Brat Bret Brot

Bu Lia teh guru basa Inggris anu katelah the killer ceuk barudak mah. Barudak awewe mah biasana balageur, beda jeung barudak lalaki nu borokokok.Unggal bade rengse palajaran, anjeuna sok ngetest murid- muridna.
Poe kahiji. "Ayeuna ibu rek ngetest maraneh ihwal irregular verb, anu bisa ngajawab bener, meunang balik ti heula!", saur ibu guru Lia.
"Anu teu bisa, nangtung di hareup nepi ka ibu kaluar ti kantor!", ibu ngancem

"Fitha, sok sebutkeun contona irregular verb !", ibu guru Lia naros."Bring - brought - brought, hartosna nyandak"
"Alus. Cikan Yogi ! Tong heureuy bae !", si Yogi katelah tukang heureuy.
"Dag - dig - dug, hartosna abdi teu acan ngadamel PR"."Nangtung dihareup ! Dadan ! "
"Brang - breng - brong, hartosna ema ngambek di dapur alatan teu gaduh beas"
"Nangtung dihareup ! Dikdik ! "
"Begang - begeng - begung, hartosna siga awak Datuk Maringgih "
"Nangtung dihareup ! Yusuf ! "
"Dar - der - dor, hartosna perang di Irak jeung Palestina"
"Nangtung dihareup ! Mahmud ! "
"Pak - pik - pek, hartosna abdi beberes di bumi "
"Bohong maneh mah tara beberes .Nangtung dihareup ! Endang !
"Blag - blig - blug, hartosna si Atun diajar leumpang "
"Nangtung dihareup ! Nandang ! "
"Brak - brik - brek, hartosna awut-awutan "
"Nangtung dihareup ! Naddy ! "
"Plak - plek - plok, hartosna bararahe "
"Masingna ase rehe atuh ! Nangtung dihareup ! Epul !"
"Cas - cis - cus , hartosna nyarioskeun batur "
"Nangtung dihareup ! Kabeh baralegug ! Doddy !"
Si Doddy teh budak nu geumpeuran, titatadi geus ngahodhod sieuneun ditanya.Ayeuna ditanya pisan ku bu Lia. Bakating ku geumpeur, ari seduuut .... teh hitut !
"Brat - bret - brot nyah ! ?, saur ibu Lia mayunan : " Kaluar kabeh!", ibu Lia bendu.

Poe ka dua. "Ayeuna ibu rek ngetest maraneh ihwal present continous, anu bisa ngajawab bener, meunang balik ti heula ! ", saur ibu guru Lia.
"Anu teu bisa, nangtung di hareup nepi ka ibu kaluar ti kantor!", ibu ngancem.
"Ridwan, sok sebutkeun contona present continous !", ibu guru Lia naros.
"Hi istuning (he is tuning),hartosna dia keterlaluan".
"Maneh nu istuning belegug pisan mah ! Deni !
"Dey weureu daun (they were down), hartosna mereka weureu daun"
" Weureu daun naon maneh teh Deni ?!, kahareup kabeh !
Matak TBC ngajar barudak kawas kieu mah !", bu Lia bendu. " Ah moal bu, buktosna pun rama ngajar di TC sehat-sehat saja tuh...."
" Heueh da gajihna beda jeung guru SD!

salam
h@di tea EUY!!!

Tuesday, August 10, 2004

Allah Menyayangi Kami


Posted by Hello
entah pertanda apa lagi, setelah kebetulan tadi malem kami memulangkan pengasuh anak kami dengan tidak hormat, karena terbukti nyata perilakunya sudah sangat membahayakan anak kami.
Hari ini saya dan terutama Isteri masih sangta shock dan belum bisa percaya dikhianati dan dilukai seperti itu. Padahal menurut ukuran kami kepercayaan kami begitu tinggi kepadanya.

Semua kejadiannya menurut mama dan mami mertua saya serta tetangga dan kerabat itu karena kesalahan kami yang terlalu royal dan terlalu mempercayakan segalanya mengenai pengurusan anak ke pengasuh sakit itu. mama saya malah sempat bilang kalian sedang kena batunya karena sudah merasa sombong bisa mengatasi sendiri dan jauh dari kehidupan ibadah yang baik.

semalam saya berkontempelasi dan berbicara panjang lebar dengan isteri dan mami mertua saya (di paksa untuk terbang ke jakarta) dan tanpa argue saya mengakui kegagalan saya.

hanya karena seorang anak kecil tetangga kami yang membisiki, hanya sebuah sms yang menjadi bukti dan kesetiaan pembantu kami satunya yang sempat justru kami abaikan dan hanya juga kebaikan seluruh tetangga di komplek kami. Dan semua itu bukan sebuah kebetulan tapi karena Allah masih sayang ama kami.
Saya sudah mengakui bahwa saya telah GAGAL karena saya sudah membahayakan anak saya dengan cara prilaku salah kaprah yang sangat mendasar jauh dari ibadah dan jauh dari cinta keluarga.

InsyaAllah banyak hikmah dari pengalaman ini walaupun pahit...

h@di tea EUY!!!

TITIPAN ILAHI

W.S. Rendra Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya,bahwa rumahku hanya titipan Nya,bahwa hartaku hanya titipan Nya,bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Diamenitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibahkusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku. Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...