HK is for Hadi Kuncoro

My photo
A Friend, Husband & Father! Time is always change and so does the world! House of Changes by HK is there to partner with you to share, brainstorm and dreams. We build a new pardigm for a better life and society. I do invite you to encourage ourself to lead the changes! Hadi Kuncoro

Thursday, June 30, 2005

Si Princes Lebah di HighScope


Ini dia si Putri Lebah.......
Hari ini program holiday schoolnya Aurel bertemakan Hari Kostum binatang atau buah. Bunda pilihin Aurel kostum Lebah "seneng banget deh pakenya"

ini dia si putri lebah dengan gigi kelincinya

Bangun tidur pagi tadi Aurel langsung coba kostumnya, padahal belum mandi.
besok hari terakhir di sekolah, programnya carnival day. Tapi sayang bidadariku mulai flu lagi, gara-gara kemarin program disekolah adalah splash water game day.

salam
hadi tea EUY!!!

Saturday, June 18, 2005

Bulu-Bulu yang Merangsang

+ "Jangan mandi pake air panas ya"
+ "Jangan tidur di AC ya"
+ "Saya nggak kasih obat ya"

"Euleuh siah... ini dokter teh gimana sih ?" tergaruk-garuk kepalaku ngedenger ocehan dokter anak yang terkesan terus bercanda dan berseloroh tiada henti.
Dalam bathinku berkata, "kurang ajar sekali ini dokter, udah saya bayar mahal-mahal eh malah cengengesan melulu".
Semua itu berawal, kami mencarikan dokter ahli anak sebagai second opinion untuk sakitnya si "bidadari kecil kami". Apa lacur semua begitu menegangkan dan menyebalkan diawalnya.

- "Malam Dokter" begitu kami memberi salam
+"Malam juga, kenapa ini ?"
- "Anu dokter...enngg...si kecil ini batuknya udah hampir dua minggu gak sembuh-sembuh trus sekarang malah ketambahan flunya semakin menjadi...bla...bla...bla..." papar isteri saya panjang lebar
+ "Selama ini treatment-nya bagaimana ?"
- "Kita ke dokter Erw### di RS##, tapi karena hampir tiap bulan si dokter nggak mau kasih antibiotik terus-menerus ini medical record booknya" Isteriku menyodorkan buku sehatnya si Kecil
+ "Iya, sudah betul itu..." begitu jawab dokter dengan mimik dingin
- "Sebelumnya, si kecil ini punya medical record bla...bla...bla...dan itu menurut dokter kami karena ada kontribusi keturunan alergi dari kedua orang tuanya"
+ "memangnya alergi apa ?" tanya dokter mulai menunjukan ekspresi serius
- "Saya alergi seafood dan isteri saya alergi telur" begitu jabarku
+ "Ooh..begitu, ya... sudah kalo ada keterunan alergi yang paling utama adalah harus hindari makan kacang (anak saya paling suka), makan chiki, makan coklat, makan dan minum juice tomat, makan bla..bla..bla..." begitu jelas si dokter yang sudah mulai waras (dalam tatar pemahamanku: Red) dalam memberikan penjelasan
- "Loh banyak banget larangannya, Dok ?" aku dan isteruku keheranan
+ "Itu belum seberapa...."
- "Alah siah...apalagi emangnya ?" celetukku
+ "Dikamar si kecil ada boneka ?"
- "Ada belasan boneka, Dok"
+ "Berbulu ?"
- "Hampir semuanya"
+ "Yang boneka bulu nggak boleh ada di kamar, dan yang ada dikamar harus dalam keadaan bersih tanpa debu, trus kalo mandi gimana ?"
- "Pake air panas Dok, baik mandi pagi maupun mandi sore" papar isteriku
+ "Waduh...nggak boleh itu"
- "Loh jadi harus pake air dingin ya Dok ?" penasaran isteriku sambil ngedumel dalam hati anak gampang flu kok disuruh mandi air dingin
+ "Coba ibu sendiri memangnya mau mandi pake air panas ?"
- "Ohh..iya-iya...nanti ngelotok ya Dok, jadi air hangat gituh maksud dokter ?" isteri saya cengar-cengir kayak kuda
+ "Trus, tidurnya jangan di AC yah, nanti kepalanya benjol-benjol. Ibu sama Bapak ada alergikan (tekanan kata ada di sini) ?" tanya dokter itu
- "Loh, kamar di rumah kami rancangannya semua pake AC Dok, nanti dia kepanasan...sekarang aja dia suka keringetan kok"
+ "Ya..pokoknya nggak boleh kalo mau nggak tambah, sakitnya" begitu jelas Dokter itu
- "Jadi harus genti pake kipas saja ya Dok ?" Tanya isteriku lagi dan aku menimpali isteriku
- "Bun, Dokternya sableng...lagian mana bisa tidur di AC yang ada jatoh dan benjol-benjol hahahaha.... Dokter norak juga becandanya yah..." begitu celetukku tanpa tedeng aling-aling
+ "Nah...gitu dong jangan terlalu tegang ah... jadi begini kalo di ruangan ber AC boleh tapi suhunya ya di setel 26-27 derajat saja"

Setelah hampir satu jam pemerikasaan dan berdiskusi panjang lebar membahas medical record anaku tercinta, selanjutnya

- "Dokter kasih obat antibiotik untuk flu dan batuknya ya ?" tanya isteriku
+ "Siapa bilang ? saya nggak bisa kasih obat apa-apa kok"
- "Loh terus, batuk dan pileknya gimana dong Dok kalo nggak dikasih obat ? nanti nggak sembuh-sembuh" penasaran isteriku
+ "Saya nggak bisa kasih obat Ibu"
- "Loh gimana sih Dokter nih, terus bagaimana dong ?"
Sekonyong-konyong aku bangkit dari duduk dan mengulurkan tanganku ke si dokter untuk berjabat tangan.
- "Terima kasih Dok, minggu depan kita kesini lagi untuk kontrol. Ayo Bun, kita ke apotek untuk ambil obatnya...heuheuheu..."
+ "Ya minggu depan kontrol lagi yah, terima kasih juga... dan Ibu, saya hanya bisa kasih resep dan obatnya ibu tebus di Apotek yah..."
- "Wah, Dokter ni...bikin kepala dan jantung saya nyut-nyutan...makasih ya Dok" jawab isteriku mulai sadar bahwa sampe pada detik terakhirpun dokter itu masih bercanda di atas kepanikan seorang ibu yang pusing memikirkan buah hatinya tercinta.

Tadi malam si Bidadari Kecil berbaring tertidur di dekat kakiku, lama setelah mendengarkan dongeng malam tentang si rubah dan si domba karangan isteriku. Sementara isteriku mulai kami pisahkan di ruangan yang lain karena dilanda batuk dan pilek. Akupun mulai terkantuk manakala lembar ketiga novel John Grisham "The Partners" baru kuselesaikan dibaca.

Sekonyong-konyong, Bidadariku terbersin-bersin dan batuk-batuk dengan hebatnya... dan aku terperanjat bangun....dan berteriak...
A : "Bun...Aurel batuk dan pilek lagi nih..." begitu aku berteriak sembari membangunkan isteriku
B : "Tadi tidurnya gimana sih Yah ?
A : "Tidurnya biasa, dideket kaki Ayah...emang kenapa ?" tanyaku heran
B : "Ya itu masalahnya, makanya kalo tidur pake celana training panjang jangan pake celana pendek"
A : "Nah loh, apa hubungannya ama pilek dan batuk ?"
B : " Udah tahu anaknya alergi bulu......."
A : "Eleuh siah.....lieur euy.... hehehe"

Moral message : Rapihkanlah bulu-bulu yang ada di tubuh kalian hey para lelaki, karena itu sunah apalagi di Hari Jum'at

Note :
+ Dokter
- Aku dan Isteriku
A : Ayah
B : Bunda

salam
hadi tea EUY!!!

Thursday, May 26, 2005

Beauty is Painful

"Jeng, gimandang kalo eik bikin yang new look ?"
"Emang, Wince mo bikin potongan kayak apa sih ?" begitu seorang lady bertanya balik pada si hair stylist di salon franchise terkenal
"Pokonya, eik bikin pangling deh boo...."
"Ya udah terserah, yang penting ada gaya berombaknya....yah"

hampir dua jam saya dan isteri nungguin tuh lady genit di salon itu. Hampir saja saya frustasi dan marah-marah, kalo isteri nggak ngotot nyuruh saya harus dicukur hari itu juga, dengan berbagai alasan.
Ya, semenjak menikah setiap dua bulan sekali saya dipaksa dan digeret-geret oleh isteri untuk dicukur di salon tersebut karena hair stylistnya memang sudah menjadi langganan isteri dan wedhok tenanan. Pada awalnya saya sangat resisten untuk dicukur di salon, karena :
- Gue geli dipegang-pegang ama bencis
- Mahal
- Emang gue cowok apaan
- Buang-buang waktu
- Cukur Mang Utjoep atau Madura lebih kekeluargaan
- etc....

Tak kuasa menanti terlalu lama, akhirnya ada satu hair stylist "Lanang tenanan" selesai menjalankan tugasnya. Yo wis, no choice, saya perintahkan untuk meminta dia untuk mengurusi rambut di kepala saya (bukan rambut yang ditempat lain yah), walaupun saya tahu dia belumlah menjadi senior hair stylist. Seraya kepala saya dipegang-pegang memulai proses pencukuran kami bertiga bergosiplah tetang si lady tersebut.

+ "Mas, kalo ditata model rambutnya si embak itu apa namanya ?" begitu tanyaku
- "Oh, itu gaya di ombak dan terus di blow, wah dia mah hampir tiap minggu kesalon Mas"
+ "Emang gaya rambut kayak gitu kuat sampe seminggu yah ?"
- "Ya nggak sih Mas, paling juga besok udah kusut kucai lagi" begitu jelas si Mas Kang cukur
+ "Tapi bisa juga sih kuat seminggu, kalo dia nggak mandi besar, kalo dia tidurnya sambil duduk dikursi, trus suaminya nggak jahil ngelus-ngelus rambutnya ah... yang pasti dia itu sengsara sekali hidupnya yah ?"
- "Ah...si Mas bisa aja, ngomong-ngomong mo diapain nih Mas rambutnya ?" sambil cengengesan
+ "Mo gaya rambut, saya bisa tidur nyenyak dan bisa mandi aja deh...."

tak dinyana yang tadinya diam saja, isteriku menyambar dengan pertanyaan
"Jadi Ayah, nggak suka yah kalo Bunda cantik kayak si mbak itu ?"
"Weits...nanti dulu, emang siapa yang bilang si Lady itu cantik ?" begitu kilah ku....

Si Mas Kang cukur (hair stylist : bahasa kerennya), rampung sudah merapihkan rambutku, dan dia bawa kaca bunder jimatnya sambil memperlihatkan bagian belakang kepalaku.
"Segini cukup Mas ?" Si Kang cukur mempertanyakan hasil kerjanya
"Okey lah...saya percaya ama Masnya, toh saya ndak bakalan rubah jadi kayak Anjasmara kok"
"Loh, nggak gitu Mas...kali masnya ngerasa kurang rapih atau kurang pendek gituh ?"
"Ya udah kalo gitu saya kasih komentar deh, potongannya kependekan nih Mas...bisa nggak dibikin panjangan lagi sedikit ?" balasku iseng sekenanya
"Hehehehe...Mas ini bisa aja...."

Dalam hati saya bergumam :
"Lha gimana bisa gue liat rapih apa nggak, wong kacamata gue juga nggak dipake kok pasan tadi disuruh ngeliat. Dasar semprul!"

Moral messagenya adalah :
Aku ini cantik atau ganteng bukan karena rambut, tapi karena aku memang tampan dari sononya.
salam
hadi tea EUY!!!

Tuesday, May 03, 2005

Bersakit-sakit Dahulu Tercengang Kemudian


"Berapa Sus semuanya ?"
"Enam ratus enam puluh tujuh ribu rupiah Pak" begitu jawab suster
"Alah siah mahal pisan... apa aja itu teh ?" masih belum percaya karena minggu kemarin hanya habis sekitar tiga ratus ribuan
"Copot dan pasang, trus harga alat dan obat-obatan" Papar suster yang baik hati itu
"Huaaa, pake acara copot dan pasang segala harga break down-nya yah ?
"Iya Pak"
"Motor saya kalo lagi service harga bongkar sudah dengan harga pasang loh" sambil menyodorkan kartu hutang ajaib saya dengan enggan
"Lho inikan poliklinik kebidanan Pak, bukan bengkel" tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gemulai

Begitulah sering kita terperanjat manakala kita berurusan dengan bayar membayar di rumah sakit atau di dokter. Tapi bukan mahalnya biaya kesehatan yang akan saya ungkapkan di sini tapi tata laksana dokter dalam berhitung bisnis.

Di atas adalah ilustrasi tatacara perhitungan biaya memasang alat kontrasepsi berupa spiral atau we called it with IUD (Ikune Ucul Dadi : alatnya lepas pasti jadi; Red). Hanya karena rahim seorang wanita menolaknya atau mungkin juga karena cara memasangnya yang salah kemudian dokter menyatakan :
"Aduh ini gagal nih, harus di ulang lagi atau mau istirahat dulu ?"
"Maksud dokter bagaimana ?"
"Iya pemasangan minggu lalu spiralnya sudah tidak pada tempatnya dan gagal" begitu jawab sang Bu dokter.
"Trus harus bagaimana dokter ?"
"Ya di lepas dan dipasang yang baru"
"Euleuh siah..."

Break down reciept menunjukan :
Jasa dokter melepas : 200 ribu
Jasa dokter memasang : 200 ribu
Alat KB-nya : Tidak sampai 100 ribu
Obat-obatan : Tidak sampai 100 ribu
Service charge rumah sakit : tidak sampai 100 ribu
sisanya obat-obtan bebas lainnya.

Beberapa bulan yang lalu di rumah sakit yang sama, dibagian poliklinik gigi. Setiap minggu aku harus bolak-balik karena gigi sebagai obyek pencabutan ditumbuhi polip, thus menurut anjuran dokter gigi yang genit itu polipnya harus dimatikan terlebih dahulu dengan cara di suntik sebelum dilakukan pencabutan. Berulang hingga 4 kali, tapi sangat menakjubkan, kali ini dokternya geulis, eh.... baik ding. Memberikan gratis tanpa bayar untuk pertemuan ke 3 pada post jasa dokter specialist, tapi karena saya berminat untuk membersihkan gigi maka break down-nya menjadi :
jasa dokter specialist gratis
kerik gigi kiri atas nomer 3, 40 ribu
kerik gigi atas nomer 2, 40 ribu dan seterusnya hingga total menjadi 400 ribu lebih.

Kalo memang tata cara perhitungan biayanya akan selalu menjadi begitu, yang kaya raya adalah mungkin dokter kulit dan kelamin, pasti break downnya adalah
jerawat Dim 2 mm di atas kening 10 ribu
jerawat Dim 1 mm di bawah bibir 10 ribu
kutil di atas alis 3 X 25 ribu
bintik di mata kiri 2 X 30 ribu (itu mah ke dokter mata seharusnya, karena pasti bintitan)
ngelupasin kulit mati 5 ribu per mm persegi
komedo di hidung 20 X 7 ribu, belum komedo ditempat lain
scrub seluruh wajah 250 ribu
ngelap kering wajah 100 ribu
dan seterusnya hingga bergulung-gulung calculation roll sheet dari cashier machine.

Mari kita berandai-andai bahwa pelayanan jasa kesehatan ini bisa seterbuka dan se-fair dalam persaingan bisnisnya. Misalnya dengan cara setiap rumah sakit harus memampangkan seluruh harga services dan handling kesehatan bagi pasiennya seperti layaknya di warung makan pinggir jalan, sehingga pasien bisa mencatat dan membandingkan dengan rumah sakit sebelah untuk mendapatkan efective price. Atau bahwa rumah sakit atau dokter harus mau mengirimkan quotation ke setiap pasiennya sebelum pasien itu memutuskan rumah sakit atau dokter mana yang akan dipilih.

Toh, sebetulnya jasa dokter itu menurut saya tidaklah berbeda dengan jasa montir di bengkel. Yang membedakan keduanya menurut temen saya Priyadi, bahwa kalo dokter mereparasi pasiennya dalam kondisi hidup sementara montir meraparasi motornya dalam kondisi mesin mati.
Kalo memang dokter selama reparasi itu bisa melakukannya dalam kondisi mati, mungkin bisnis dokter bisa ditingkatkan ke level mass production dengan system kanban atau ban berjalan..... huh...non sense.

Moral message dari tulisan ini adalah Mari kita hidup sehat, karena sakit itu mahal.

salam
h@di tea EUY!!!

Monday, May 02, 2005

SSU..SU..atu waktu dikala bergunjing

"Apa liat-liat ?" jerit seorang wanita melototi diriku
"Idiih siapa yang liatin situ ?"
"Lha itu matanya jelalatan ke bagian yang nggak sopan ?" seraya wanita itu menutupi bagian depan tubuh atasnya dengan risi
"Lha ya nggak apa-apa toh ?" sambil meringis menahan malu
"Emang kalo situ plototin kayak gitu, bisa lepas apa tutupnya ?"

Hwataw........
Hebat juga saya kalo ngeliatin gitu terus lepas penutup auratnya...ah.... ngayal...stop ! stop !
Jadi inget acara memang sulap memang sihir....

Suatu siang yang lain, disebuah kerumunan obrolan para buruh kapitalis sembari melepas lelah di waktu lunch.
"Hey hati-hati yah Bu, jangan keseringan naik bajaj"
"Emangnya kenapa ? kan aku sudah nggak hamil lagi" begitu jawab rekan wanita kami yang baru saja melahirkan seorang putri pertamanya
"Nggak apa-apa, takut ASI-nya nanti jadi milk shake kalo kebanyakan naik bajaj"
"Hehehe...kurang ajar lo yah...."

Suatu malam, aku dan isteriku sedang memulai ritual melepas lelah sepulang kerja.
"Yah, udah baca koran hari ini ?"
"Belum, emang ada berita apa ?" begitu jawabku sambil lalu
"Pangeran Charles keracunan loh..."
"Haa... emang abis makan di warteg mana ?" tanyaku sambil cengengesan
"Bukan abis makan, tapi keracunan susu basi"

Suatu pagi dengan putri semata wayangku
"Ayah, Minum cucunya yah!"
"Nggak mau" jawabku tegas sambil menggelengkan kepala
"Napa Yah, enak ok"
"Nak susu itu dari induk sapi untuk anak sapi, bukan untuk anak manusia"
"Telus..."
"Kalo ayah lebih suka wadahnya susu aja"
"Gerrr.....Hemmmm...." anakku bingung....

Beratus tahun yang lalu banyak sudah guyonan dan lawakan terjadi hanya karena sebuah bagian tubuh wanita, begitu kurang ajarnya para pria di muka bumi ini, karenanya.
Begitu pula kah sekumpulan wanita ketika mereka sedang berkumpul dan berguyon sesama wanita terhadap pria ?

Mohon maap kepada para wanita, ini hanyalah sekedar tulisan selepas kerja sambil menunggu waktu macet...

salam
h@di tea EUY!!!